08124919592

Sejarah

Sejarah Singkat tentang STAINH

­Berdirinya Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Huda (STAINH) tidak terlepas dari ikhtiyar dan istikhoroh para keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Huda Peleyan Kapongan Situbondo untuk mempersiapkan kader dakwah yang dapat mengawal syi’ar Islam dengan metode dakwah yang lebih efektif. Para ulama’ menyadari, bahwa dunia global dengan kemajuan sains dan teknologi sangat mempengaruhi strategi dakwah sesuai dengan tantangan jamannya.

Bermula dari keinginan Habib Muhammad Taufiq Al-Djufri selaku ketua Yayasan PP. Nurul Huda yang mempunyai inisiatif untuk mendirikan sebuah Perguruan Tinggi. Dan keinginan tersebut diutarakan ke Habib Mushtofa bin Alwi Al-Djufri selaku pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda dan diutarakan pula ke Hj. Syarifah Fatmah Assegaf, beliau keduanya adalah seorang ayahanda dan ibunda dari Habib Muhammad Taufiq Al-Djufri, peristiwa tersebut bertepatan pada tahun 2006 M/1427 H.

Kemudian dilanjutkan dengan bermusyawarah kepada seluruh jajaran pengurus Yayasan dan guru TK, MI, MTs dan MA Nurul Huda untuk membentuk sebuah tim. Setelah terbentuklah tim kepanitiaan atas dasar keputusan musyawarah tersebut, maka ditunjuklah Moch. Mukhlash atau biasa dikenal dengan nama Sukamto asal Banyuwangi sebagai ketua panitia, dia selaku pengurus Yayasan PP. Nurul Huda, dan juga ketua yayasan sendiri yang langsung turun tangan untuk mempersiapkan segala sesuatunya karena menjadi persyaratan yang harus dipenuhi, diantaranya harus menyiapkan tenaga pengajar/dosen yang professional dan relevan dengan jurusan yang akan diajukan dan juga mendatangi instansi-instansi pemerintahan terkait dengan jurusan yang dajukan.

Setelah sekian lama proses pembuatan proposal ijin operasional dibuat, maka diajukanlah proposal tersebut ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Islam (Dirjen DIKTIS) Jakarta Pusat  dengan 2 jurusan yaitu (1) Jurusan Dakwah Prodi Komunikasi & Penyiaran Islam (KPI) dan (2)  Jurusan Tarbiyah prodi Pendidikan Agama Islam (PAI).

Setelah dapat beberapa bulan maka turunlah surat yang menyatakan bahwa pada tanggal 12 Juli 2007 akan diadakan Visitasi yang dihadiri oleh Dirjen Pendidikan Tinggi Islam Jakarta. Hasil dari Visitasi tersebut diantaranya adalah ditutupnya prodi PAI dengan alasan sudah jenuh atau dalam artian sudah banyak perguruan tinggi yang telah membuka prodi PAI. Dan STAINH dianjurkan untuk mengajukan proposal kembali dengan memilih jurusan lain. Setelah dipertimbangkan dengan melihat realita kebutuhan yang ada, maka jurusan Syari’ah-lah dengan program studi Ahwal Al-Syakhshiyah (AS) yang menjadi pilihan untuk diajukan di tahap ke-2. Setelah proposal diajukan ke Departemen Agama RI Jakarta Pusat kemudian terjadwallah Visitasi ke-2 yang dilaksanakan pada tanggal 26 Juli 2008 dan Alhamdulillah visitasi ke-2 tersebut disambut dengan bagus dengan nilai terbaik dari semua Perguruan Tinggi yang mengajukan pembukaan prodi baru se-Indonesia.

Pada tanggal 16 September 2008 M. atau 17 Ramadhan 1429 H. bersamaan dengan peristiwa Nuzulul Qur’an, maka turunlah ijin operasional Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Huda Kapongan Situbondo dengan 2 jurusan yakni : Jurusan Dakwah prodi Komunikasi & Penyiaran Islam (KPI) dan Jurusan Syari’ah prodi Ahwal Al-Syakhshiyah (AS) dengan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Jakarta Nomor  :  Dj.01/302/2008.

Kemudian dalam rangka melebarkan sayap, Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Huda Kapongan mengajukan penambahan prodi baru yaitu Hukum Ekonomi Syari’ah (Mu’amalah) dalam rumpun jurusan Syari’ah, Pendidikan Guru Madrasah Ibtida’iyah (PGMI) dalam rumpun Jurusan Tarbiyah, Menegemen Pendidikan Islam (MPI) dalam rumpun Jurusan Tarbiyah. Dan Bimbingan Konseling Islam (BKI) dalam rumpun Jurusan Dakwah. Dan alhamdulillah pada tanggal 20 Januari 2015  Prodi Hukum Ekonomi Syari’ah (HES) mendapatkan SK. Ijin Operasional dengan nomor 361 Thuan 2015 . Setelah itu disusul kemudian dengan Prodi PGMI pada jurusan Tarbiyah diadakanlah visitasi oleh Kemenag RI pada tanggal 28 Juni 2015.